Design by : PatoZ
Pelayanan terbaik dalam mendidik anak bangsa
SMA WARGA
Jl. Monginsidi No. 21
Surakarta - 57128
telp. 0271  638873

E-Mail : smawarga@telkom.net
Untuk mempermudah mencari lokasi alamat/jalan yang ada
di Surakarta, klik
disini
Peta SMA WARGA
dilihat melalui Satelit
Meningkatkan Spirit, SMA Warga ber-Ouantum Teaching

Sertifikasi …. Sertifikasi ….. sertifikasi
Nggak lulus portofolio … ikut PLPG berat.
Sebuah ungkapan yang sering kita dengar ditengah-tengah obrolan bapak, ibu guru entah itu di kantor, di warung atau pun di arisan-arisan ibu-ibu, bapak-bapak di pertemuan RT ataupun RW.

Sebenarnya ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru dan menjadi syarat mendapat sertifikat guru profesional, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Dari keempat kompetensi tersebut, yang menjadi spirit (roh, jiwa, energi, pembakar semangat) guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya adalah kompetensi kepribadian. Mengapa demikian? Karena kompetensi kepribadian mengandung nilai-nilai spiritual dan moral, yaitu beriman, bertakwa, berakhlak mulia, arif, bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, maka untuk menyiapkan guru bersitifikat profesional SMA Warga membekali guru-gurunya Ouantum Teaching yang diselenggarakan di Ramayana Resto, Sabtu 31 Oktober 2009. agar nantinya guru-guru SMA Warga dapat  mengembangkan diri secara mandiri, terus-menerus dan berkelanjutan

Bila sifat dan karakter tersebut tampak nyata dalam ucapan dan perbuatan guru dalam mengemban tugas dan kewajiban mendidik peserta didik, niscaya guru akan tampil mempesona dan menyenangkan di hadapan peserta didik. Prinsip pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), niscaya akan terealisasi. Pembelajaran yang menyenangkan dewasa ini populer dengan istilah quantum teaching. Konon kata "quantum" berasal dari kata "quanta" dalam ilmu fisika. Sebagaimana diketahui, bagian terkecil yang dapat dilihat dari benda adalah partikel (proton, elektron, dan netron).

Dan partikel mengandung quanta, berupa energi vibrasi dan energi getar. Energi ini tidak tampak kasat mata, tapi efeknya terasa. Bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima pada Perang Dunia II telah memorak-porandakan bangunan dan menewaskan puluhan ribu orang. Begitu juga ledakan bom yang digunakan aksi teroris, telah banyak menelan korban harta dan nyawa, mengganggu stabilitas keamanan, mengguncang ketenangan hidup masyarakat banyak.

Begitu juga bila kompetensi kepribadian, terutama keimanan dan ketakwaan merupakan quanta yang tertanam dalam hati nurani setiap guru, niscaya akan menimbulkan efek positif yang dahsyat dalam meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Mengapa demikian? Karena guru yang memiliki keimanan sempurna dan ketakwaan yang paripurna dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, bukan hanya formalitas mengemban tugas dari pemerintah, tetapi lebih jauh dari itu, memiliki keyakinan bahwa melaksanakan tugas mendidik adalah termasuk bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat, dan bentuk ibadah kepada Allah.

Bila mendidik diyakini sebagai perbuatan ibadah maka seorang guru akan melaksanakan tugas mengajar dengan hati tulus ikhlas, penuh semangat, melayani siswa dengan penuh pesona dan menyenangkan.

Sebaliknya walaupun seorang guru memiliki kompetensi pedagogik yang mumpuni dan memiliki kompetensi profesional yang andal tapi tidak memiliki kompetensi kepribadian, maka bagaikan jasad tak bernyawa, bagai udara kehilangan oksigen, bagai gula kehilangan manis, bagai garam kehilangan asin, bagai jaringan kabel listrik kehilangan arus, bagai HP kehilangan sinyal, bagai darah kehilangan hemoglobin, bagai kendaraan bermotor kehabisan bahan bakar.

Maka untuk persiapan sertifikasi entah melalui portofolio atau pun PLPG, dan untuk meningkatkan inovasi, kreativitas,  perlu secara intensif ditiupkan ke dalam jiwa guru-guru SMA Warga  secara periodik dan sistematik tentang spirit of teaching atau quantum teaching strategy agar proses belajar mengajar menjadi menyenangkan. Tindakan antisipatif, prefentif, dan kuratif harus aktif digalakkan. Seorang guru yang kehilangan kompetensi kepribadian bagaikan tubuh kehilangan imun (kekebalan), bagaikan orang terserang virus HIV, kekebalan tubuhnya semakin melemah. Bahkan yang sangat membahayakan bila virusnya menular kepada orang-orang di sekitar, akhirnya banyak yang menjadi korban. Sungguh berdosa besar orang yang rugi dan merugikan orang, orang sesat dan menyesatkan orang, celaka dan mencelakakan. Semoga hal ini tidak terjadi di dunia pendidikan, khususnya di SMA Warga Surakarta, Amiiin.
1   2   3   4